Koneksi Antar Materi Modul 3.1 “Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin”

 

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

 


Santi Noor Wijayati, S.Pd.
CGP Angkatan 11
SMP 2 Dawe Kab.Kudus


“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini ? Dari kutipan diatas, bahwa proses pembelajaran yang saya pelajari berkaitan dengan permasalahan dilema etika dimana guru mengalami dilema dalam pembelajaran yaitu mengedepankan materi atau pendidikan karakter murid melalui materi yang diajarkan.


Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

Nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat dipertanggung jawabkan dan berpihak pada murid. Oleh karena itu pengambilan keputusan dapat berdampak positif pada lingkungan sekolah kita sehingga tercipta lingkungan yang aman, nyaman, damai dan tanpa ada perselisihan diantara warga sekolah.

 

Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara "Menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat". Dengan mengutamakan kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi.

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel

Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa pendidikan seperti seni karena pendidikan merupakan hasil dari karya seni cipta, karsa dan karya yang didalamnya memiliki nilai-nilai moral, kebajikan dan kebenaran universal. Ketika mempelajari modul ini sangat luar biasa. Saya harus kembali melihat nilai-nilai universal yang mendasari pengambilan keputusan. Sebelum mengambil keputusan saya dihadapkan pada refleksi mendalam, 3 prinsiip dilema etika, 4 paradigma dilema etika, mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan sebagai pemimpim pembelajaran dan tidak melewatkan satu langkah sehingga pada akhirnya sampai pada keputusan akhir yang akan diambil. Semua keputusan yang diambil terarah pada kebutuhan murid itu sendiri. Inilah seni mendidik. Seni membangkitkan cipta, karsa dan karya murid. Mengembangkan potensi murid dengan segala kelebihan maupun kekurangannya.

 

Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Adapun pratap triloka dalam pendidikan sebagai sistem among oleh Ki Hajar Dewantara antara lain  Ing ngarsa sung tuladha bahwa seorang guru menjadi teladan bagi muridnya. Ing madya mangun karsa bahwa seorang guru menjalin komunikasi yang baik dengan muridnya. Tut wuri handayani bahwa peran guru sebagai motor penggerak yang memotivasi serta mendorong muridnya berkembang sesuai potensinya.

Menurut saya pengaruh pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka terhadap sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran adalah guru menyadari bahwa dalam lingkungan sekolah akan ditemukan berbagai dilema etika dan bujukan moral. Maka dari itu disinilah guru harus memiliki kompetensi dan peran sesuai dengan filosofi Pratap Triloka dari KHD dengan cara menjadi sosok teladan yang positif, motivator, dan sekaligus moral support bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila dan merdeka belajar sehingga guru selalu mengacu pada 9 langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan dalam situasi yang menantang dan bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.

 

2.Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, tentu berpengaruh kepada prinsipprinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Sebagai seorang guru berpegang teguh pada nilai religius, nilai kejujuran, nilai kedisiplinan, nilai peduli sosial dan nilai tanggung jawab sehingga dapat menghasilkan keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dalam pengambilan keputusan, kita mengenal ada tiga prinsip yang dapat kita ambil yakni Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan tentunya berkaitan dengan nilai- nilai yang tertanam dalam diri kita. Sehingga dalam pengambilan keputusan kita mampu berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut. Maka pengambilan keputusan yang diambil tidak akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.

3.   Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Coaching merupakan ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah orang lain. Dengan menggunakan alur TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah yang terjadi dan pemecahan masalah secara sistematis. Pada proses coaching membantu coachee membuat keputusannya secara mandiri. Konsep coaching dengan alur TIRTA lebih efektif apabila dikombinasikan dengan 9 langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil. Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang saya ambil.

4.   Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Sebagai seorang guru, kita harus mampu memetakan kebutuhan belajar murid seperti kesiapan belajar murid, minat belajar, profil belajar murid sehingga proses pembelajaran lebih menyenangkan bagi murid. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kebutuhan belajar murid dapat terakomodir dengan baik. Sebagai seorang guru sudah seharusnya memiliki penguasaan dalam kompetensi sosial dan emosional, yaitu kompetensi kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan relasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kompetensi sosial emosional guru juga diperlukan agar tidak terjadi konflik dalam pengambilan keputusan sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar dikelas maupun sekolah. Aspek sosial dan emosional dalam diri seorang guru pastinya akan berpengaruh saat harus mengambil sebuah keputusan, khususnya masalah dilema etika. Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus melakukannya dalam keadaan secara sadar sepenuhnya (mindfulness), dengan berbagai kondisi dan pilihan yang ada agar segala konsekuensi yang ada akan membuat keputusan tersebut menjadi sebuah keputusan terbaik.

 

5.Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Dilema etika merupakan situasi dimana kita dihadapkan pada hal benar lawan benar, namun saling bertentangan. Sedangkan bujukan moral adalah situasi di mana kita dihadapkan dengan dua hal yang benar melawan salah. Seorang pendidik yang mempunyai nilai-nilai kebajikan universal yang tertanam baik dalam diri mereka dalam mengambil keputusan akan mengedepankan kepentingan murid. Serta patuh dan taat pada peraturan yang berlaku sesuai dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Jika ada studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika maka sebagai seorang pendidik dapat menerapkan paradigma mana yang sesuai dengan masalah tersebut serta prinsip mana yang akan diambil dalam pengambilan keputusan.

 

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi dan resikonya. Oleh karena itu, setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid. Sebagai upaya pengambilan keputusan yang tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dapat dilakukan dengan beberapa tahap berikut, yaitu

  • Mengidentifikasi kasus dan jenis paradigma dilema etika
  • Memilih dan memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk pengambilan keputusan.
  • Menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema etika Bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.

7.Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Perubahan tidak dapat dibangun dalam waktu semalam. Paradigma yang sudah tertanam begitu lama di benak warga sekolah ( kepala sekolah, guru, murid, wali murid dan masyarakat ) dan telah menjadi budaya, tentu akan menjadi sebuah tantangan dan sulit dihilangkan. Kasus dilema etika pun masih akan menjadi bagian dalam skenario di lingkungan sekolah. Menurut saya kita harus fokus pada proses dan langkah perubahan yang telah dibuat meski masih seumur jagung, sebesar apapun batu yang menghalangi akan ada celah meski hanya dari beberapa tetesan dukungan dan semangat. Dilema dalam pengambilan keputusan yang terjadi sangat berkaitan dengan perubahan paradigma di lingkungan sekolah yaitu individu vs kelompok, rasa keadilan vs rasa kasihan, kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka Panjang.

8.Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pengajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi murid untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan kreatifitasnya yang baru didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Kebutuhan murid yang tidak sama dan memerlukan cara belajar yang berbeda-beda dapat dipetakan terlebih dahulu kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar, minat belajar, profil belajar murid dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi. Hal tersebut untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya. Pengambilan keputusan dalam proses pembelajaran akan mempengaruhi lingkungan belajar, pengaruh budaya, gaya belajar, kecerdasan majemuk yang dapat kita identifikasi pada murid-murid kita. Sehingga murid dapat merdeka belajar dan sesuai dengan profil pelajar Pancasila.

9.  Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid agar murid dapat mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan yang penting bagi kehidupannya yang akan datang. Pemimpin pembelajaran yang mampu mengambil keputusan secara tepat akan memberikan dampak akhir yang baik dalam proses pembelajaran sehingga mampu menciptakan well being murid untuk masa depan yang lebih baik. Seorang pemimpin pembelajaran yang memiliki nilai - nilai kebajikan yang sudah tertanam dalam diri tidak lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan yang sudah tertanam seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi. Sebagai pemimpin pembelajaran akan menjadi teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid.

10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang saya dapatkan dalam pembelajaran materi modul 3.1 pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dan keterkaitan dengan modul-modul sebelumnya adalah merupakan satu kesatuan yaitu berpihak pada murid. Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan menuntun segala kodrat pada anak agar mencapai kebahagiaan dan keselamatan baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Penerapan budaya positif dan menggunakan alur BAGJA akan menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam sebuah keputusan yang diambil sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Keterampilan coaching sebagai pemimpin pembelajaran akan membantu murid menemukan solusi untuk masalah mereka sendiri.

 

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Dalam menjalankan peran sebagai pendidik, tentu seringkali kita menghadapi situasi dimana kita harus mengambil keputusan dimana terdapat nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama memiliki nilai kebenaran, namun saling bertentangan. Namun sesulit apapun keputusan yang akan diambil, sebagai guru paling tidak selalu berpatokan dengan 3 unsur yang berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dilema etika adalah keputusan benar lawan benar sedangkan bujukan moral adalah keputusan yang benar lawan salah. Empat Paradigma Dilema Etika antara lain : (1.) Individu lawan kelompok (individual vs community). Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu lawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Paradigma ini, bisa juga berhubungan dengan konflik antara kepentingan pribadi lawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil lawan kelompok besar. (2.) Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) Dalam paradigma ini, pilihannya adalah antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Kita bisa memilih untuk berlaku adil dengan memperlakukan hal yang sama bagi semua orang, atau membuat pengecualian dengan alasan kemurahan hati dan kasih sayang. (3.) Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita harus memilih antara jujur atau setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita akan menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya, (4.) Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Seringkali kita harus memilih keputusan yang kelihatannya terbaik untuk saat ini atau yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi pada hal-hal yang setiap harinya terjadi pada kita, atau pada lingkup yang lebih luas misalnya pada isu-isu dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dan lain - lain


Tiga Prinsip pengambilan keputusan yaitu :
(1.) Berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam, (2.) Berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir, (3.) Bepikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda meletakkan diri Anda pada posisi orang lain.


Sembilan Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan antara lain :
(1.) Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, (2.) Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, (3.) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, (4.) Pengujian benar atau salah yaitu a. Uji Legal Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi itu, b. Uji Regulasi/Standar Profesional Bila situasi yang dihadapi adalah dilema etika, dan tidak ada aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mari kita uji, apakah ada pelanggaran peraturan atau kode etik di dalamnya. c. Uji Intuisi Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini, d. Uji Publikasi Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan di media cetak maupun elektronik dan menjadi viral di media sosial, e. Uji Panutan/Idola Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda. (5.) Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi yang sedang Anda hadapi ini ? a. Individu lawan kelompok (individual vs community) b. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) c. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) d. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, (6). Melakukan Prinsip Resolusi Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai ? a. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) b. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) c. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) (7.) Investigasi Opsi Trilema Dalam mengambil keputusan, seringkali ada 2 pilihan yang bisa kita pilih. Terkadang kita perlu mencari opsi di luar dari 2 pilihan yang sudah ada. Kita bisa bertanya pada diri kita, apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah. (8) Buat Keputusan Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya. (9). Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnyaa Hal-hal yang menurut saya di luar dugaan adalah ketika pengambilan keputusan harus berlandaskan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga didapatkan keputusan yang bertanggung jawab.

12.   Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini, seringkali saya sebagai guru mengalami Dilema etika terhadap berbagai situasi sulit di sekolah . Saya sudah mengambil keputusan yang kiranya efektif dan baik bagi saya selaku orang yang mengalami Dilema dan baik bagi orang lain yang terkait dengan situasi yang saya alami. Paradigma yang saya alami adalah indiviu melawan kelompok, dan keadilan melawan rasa keadilan melawan rasa kajian. Setelah mempelajari modul ini, saya menjadi tahu bahwa ada 9 langkah untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pengujian dan pengambil keputusan yang harus saya pikirkan matang-matang untuk menemukan jawaban dari situasinya.

 

13.   Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak mempelajari modul 3.1 pengambilan keputusan berbasis nilai kebajikan sebagai pemimpin, saya lebih memahami paradigma dilema etika, prinsip dilema etika, 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Hal ini sangat berbeda sebelum saya mempelajari modul ini, biasanya saya dalam mengambil keputusan berdasarkan sudut pandang diri sendiri atau sepihak dan mengutamakan emosi. Setelah mempelajari modul ini lebih memahami langkah – langkah pengambilan dan pengujian keputusan dan yang terpenting adalah berlandaskan nilai kebajikan, dapat dipertanggung jawabkan dan berpihak pada murid sehingga tidak merugikan salah satu pihak.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Menurut saya sebagai seorang pemimpin sangatlah penting untuk mempelajari modul 3.1 ini karena dalam pengambilan keputusan harus mengetahui 4 paradigma dilema etika, 3 Prinsip pengambilan keputusan serta 9 Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan agar dapat dipertanggung jawabkan sehingga mewujudkan suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman, kondusif dan harmonis sehingga dibutuhkan kolaborasi semua warga sekolah dan masyarakat sekitar. Sebagai pemimpin kita akan dihadapkan dengan berbagai permasalahan, melalui modul 3.1 mendapat gambaran dalam pengambilan keputusan yang tepat.

Komentar

  1. Pemaparan yang disampaikan oleh Bu Santi sangat bagus dan terarah, sehingga bisa membuat saya terinspirasi..sukses selalu Bu Santi.

    BalasHapus
  2. dalam filosofi Ki Hajar Dewantara materi lengkap dan bisa diaplikasikan dalam pengambilan keputusan sesuai nilai-nilai yang ada

    BalasHapus
  3. Penguasaan tiap-tiap modul sudah sangat baik.
    Perlu ditingkatkan hubungan antar modul dengan modul yang sedang dipelajari dengan menambahkan contoh kasus dilema etika, sehingga pembaca lebih memahami koneksi antar materi dengan modul yang aedang dipelajari

    BalasHapus
  4. Materi yang di sampaikan bu santi sangat bagus sekali tentang bagaimana seorang pemimpin harus mengambil keputusan dengan tepat... Materi ini dapat menginspirasi buat saya. Sukses selalu bu santi.

    BalasHapus
  5. Rangkuman Materi tentang "Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin” mudah dipahami, jelas dan informasinya runtut, semangat buat penulisdan terus berkarya untuk menginspirasi, Setiap langkah kecil yang kamu ambil saat ini akan membawamu lebih dekat dengan tujuanmu. Jadi, jangan pernah berhenti bergerak maju.

    BalasHapus
  6. SANGAT BAIK RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERINYA ... DITUNGGU KREASI LANJUTAN...

    BalasHapus
  7. Pemaparan yanh ditulis Bu santi midah dipahami jadi saya bisa mendapatkan ilmu baru tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan

    BalasHapus
  8. Materi yang disampaikan Bu Santi sudah bagus, dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Selalu semangat dan terus berkarya Bu Santi... Semangattt...

    BalasHapus
  9. Pemaparan yang disampaikan Bu Santi sangat jelas dan mudah dipahami. Teruslah berkarya dan bergerak dengan berbagi praktik baik kepada semua orang yang membutuhkan. Semangat Bu Santi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Struktur Fisik dan Batin Puisi "Hujan Bulan Juni"

Strategi Labeling, Packaging Dan Marketing Produk Hasil Industri Rumah Tangga