Koneksi Antar Materi Modul 3.1 “Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin”
Koneksi Antar Materi Modul 3.1
“Pengambilan Keputusan
Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin”
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan
mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what
counts is best).
Bob Talbert
Dari kutipan di
atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat
ini ? Dari kutipan diatas, bahwa proses pembelajaran yang saya pelajari berkaitan
dengan permasalahan dilema etika dimana guru mengalami dilema dalam
pembelajaran yaitu mengedepankan materi atau pendidikan karakter murid melalui
materi yang diajarkan.
Bagaimana
nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan
keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?
Nilai-nilai atau
prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat
dipertanggung jawabkan dan berpihak pada murid. Oleh karena itu pengambilan
keputusan dapat berdampak positif pada lingkungan sekolah kita sehingga
tercipta lingkungan yang aman, nyaman, damai dan tanpa ada perselisihan
diantara warga sekolah.
Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin
pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam
pengambilan keputusan Anda?
Sebagai
seorang pemimpin pembelajaran sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara
"Menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka
dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya baik sebagai
manusia maupun anggota masyarakat". Dengan mengutamakan kebutuhan belajar
murid melalui pembelajaran berdiferensiasi.
Menurut Anda, apakah
maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah
Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.
Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel
Ki Hajar Dewantara
menyebutkan bahwa pendidikan seperti seni karena pendidikan merupakan hasil
dari karya seni cipta, karsa dan karya yang didalamnya memiliki nilai-nilai
moral, kebajikan dan kebenaran universal. Ketika mempelajari modul ini sangat
luar biasa. Saya harus kembali melihat nilai-nilai universal yang mendasari
pengambilan keputusan. Sebelum mengambil keputusan saya dihadapkan pada
refleksi mendalam, 3 prinsiip dilema etika, 4 paradigma dilema etika, mengikuti
9 langkah pengambilan keputusan sebagai pemimpim pembelajaran dan tidak melewatkan
satu langkah sehingga pada akhirnya sampai pada keputusan akhir yang akan
diambil. Semua keputusan yang diambil terarah pada kebutuhan murid itu sendiri.
Inilah seni mendidik. Seni membangkitkan cipta, karsa dan karya murid.
Mengembangkan potensi murid dengan segala kelebihan maupun kekurangannya.
Rangkuman
Kesimpulan Pembelajaran
1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan
Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai
seorang pemimpin?
Adapun pratap triloka dalam
pendidikan sebagai sistem among oleh Ki Hajar Dewantara antara lain Ing ngarsa sung tuladha
bahwa seorang guru menjadi teladan bagi muridnya. Ing madya mangun karsa bahwa
seorang guru menjalin komunikasi yang baik dengan muridnya. Tut wuri handayani
bahwa peran guru sebagai motor penggerak yang memotivasi serta mendorong
muridnya berkembang sesuai potensinya.
Menurut saya pengaruh pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi
Pratap Triloka terhadap sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin
pembelajaran adalah guru menyadari bahwa dalam lingkungan sekolah akan
ditemukan berbagai dilema etika dan bujukan moral. Maka dari itu disinilah guru
harus memiliki kompetensi dan peran sesuai dengan filosofi Pratap Triloka dari
KHD dengan cara menjadi sosok teladan yang positif, motivator, dan sekaligus
moral support bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila dan merdeka
belajar sehingga guru selalu mengacu pada 9 langkah dalam pengujian dan
pengambilan keputusan dalam situasi yang menantang dan bersikap reflektif,
kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.
2.Bagaimana nilai-nilai yang tertanam
dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam
pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai
yang tertanam dalam diri kita, tentu berpengaruh kepada prinsipprinsip yang
kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Sebagai seorang guru berpegang
teguh pada nilai religius, nilai kejujuran, nilai kedisiplinan, nilai peduli
sosial dan nilai tanggung jawab sehingga dapat menghasilkan keputusan yang
dapat dipertanggung jawabkan. Dalam pengambilan keputusan, kita mengenal ada
tiga prinsip yang dapat kita ambil yakni Berpikir Berbasis Hasil Akhir
(Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule Based Thinking), dan
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Prinsip-prinsip yang kita
ambil dalam pengambilan suatu keputusan tentunya berkaitan dengan nilai- nilai
yang tertanam dalam diri kita. Sehingga dalam pengambilan keputusan kita mampu
berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut. Maka pengambilan keputusan yang
diambil tidak akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
3. Bagaimana materi
pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan)
yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita
ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal
ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada
sebelumnya.
Coaching
merupakan ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang
terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah orang lain. Dengan
menggunakan alur TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah yang terjadi dan
pemecahan masalah secara sistematis. Pada proses coaching membantu coachee
membuat keputusannya secara mandiri. Konsep coaching dengan alur TIRTA lebih
efektif apabila dikombinasikan dengan 9 langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang
kita ambil. Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan
fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang saya ambil.
4. Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan
berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema
etika?
Sebagai seorang
guru, kita harus mampu memetakan kebutuhan belajar murid seperti kesiapan
belajar murid, minat belajar, profil belajar murid sehingga proses pembelajaran
lebih menyenangkan bagi murid. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang
tepat agar seluruh kebutuhan belajar murid dapat terakomodir dengan baik.
Sebagai seorang guru sudah seharusnya memiliki penguasaan dalam kompetensi
sosial dan emosional, yaitu kompetensi kesadaran diri, pengelolaan diri,
kesadaran sosial, keterampilan relasi dan pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab. Kompetensi sosial emosional guru juga diperlukan agar tidak
terjadi konflik dalam pengambilan keputusan sehingga dapat mewujudkan merdeka
belajar dikelas maupun sekolah. Aspek sosial
dan emosional dalam diri seorang guru pastinya akan berpengaruh saat harus
mengambil sebuah keputusan, khususnya masalah dilema etika. Dalam pengambilan
keputusan seorang guru harus melakukannya dalam keadaan secara sadar sepenuhnya
(mindfulness), dengan berbagai kondisi dan pilihan yang ada agar segala
konsekuensi yang ada akan membuat keputusan tersebut menjadi sebuah keputusan
terbaik.
5.Bagaimana
pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada
nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Dilema etika merupakan situasi
dimana kita dihadapkan pada hal benar lawan benar, namun saling bertentangan.
Sedangkan bujukan moral adalah situasi di mana kita dihadapkan dengan dua hal
yang benar melawan salah. Seorang pendidik yang mempunyai nilai-nilai kebajikan
universal yang tertanam baik dalam diri mereka dalam mengambil keputusan akan
mengedepankan kepentingan murid. Serta patuh dan taat pada peraturan yang
berlaku sesuai dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Jika ada
studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika maka sebagai seorang
pendidik dapat menerapkan paradigma mana yang sesuai dengan masalah tersebut
serta prinsip mana yang akan diambil dalam pengambilan keputusan.
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang
tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif,
aman dan nyaman.
Setiap keputusan yang
kita ambil akan ada konsekuensi dan resikonya. Oleh karena itu, setiap
keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan
universal dan berpihak pada murid. Sebagai upaya pengambilan keputusan yang
tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman
dan nyaman dapat dilakukan dengan beberapa tahap berikut, yaitu
- Mengidentifikasi
kasus dan jenis paradigma dilema etika
- Memilih
dan memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk pengambilan
keputusan.
- Menerapkan
9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema
etika Bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.
7.Apakah tantangan-tantangan di
lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma
di lingkungan Anda?
Perubahan tidak dapat dibangun
dalam waktu semalam. Paradigma yang sudah tertanam begitu lama di benak warga
sekolah ( kepala sekolah, guru, murid, wali murid dan masyarakat ) dan telah
menjadi budaya, tentu akan menjadi sebuah tantangan dan sulit dihilangkan.
Kasus dilema etika pun masih akan menjadi bagian dalam skenario di lingkungan
sekolah. Menurut saya kita harus fokus pada proses dan langkah perubahan yang
telah dibuat meski masih seumur jagung, sebesar apapun batu yang menghalangi
akan ada celah meski hanya dari beberapa tetesan dukungan dan semangat. Dilema
dalam pengambilan keputusan yang terjadi sangat berkaitan dengan perubahan
paradigma di lingkungan sekolah yaitu individu vs kelompok, rasa keadilan vs
rasa kasihan, kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka Panjang.
8.Apakah pengaruh
pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk
potensi murid kita yang berbeda-beda?
Proses
pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu,
pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pengajaran hendaknya
dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi murid untuk merdeka mengemukakan
pendapat dan mengekspresikan kreatifitasnya yang baru didapatnya. Dengan
demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan
pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Kebutuhan murid
yang tidak sama dan memerlukan cara belajar yang berbeda-beda dapat dipetakan
terlebih dahulu kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar, minat
belajar, profil belajar murid dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi.
Hal tersebut untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan
potensi dan kreativitasnya. Pengambilan keputusan dalam proses pembelajaran
akan mempengaruhi lingkungan belajar, pengaruh budaya, gaya belajar, kecerdasan
majemuk yang dapat kita identifikasi pada murid-murid kita. Sehingga murid
dapat merdeka belajar dan sesuai dengan profil pelajar Pancasila.
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran
dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Sebagai
pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan
berpihak pada murid agar murid dapat mengambil keputusan yang menentukan bagi
masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi
yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan yang
penting bagi kehidupannya yang akan datang. Pemimpin pembelajaran yang mampu
mengambil keputusan secara tepat akan memberikan dampak akhir yang baik dalam
proses pembelajaran sehingga mampu menciptakan well being murid untuk masa
depan yang lebih baik. Seorang pemimpin pembelajaran yang memiliki nilai -
nilai kebajikan yang sudah tertanam dalam diri tidak lepas dari latar belakang
sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan yang
sudah tertanam seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus
Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri,
Kesabaran, dan masih banyak lagi. Sebagai pemimpin pembelajaran akan menjadi
teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid.
10. Apakah kesimpulan akhir yang
dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan
modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan akhir yang saya
dapatkan dalam pembelajaran materi modul 3.1 pengambilan keputusan berbasis
nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dan keterkaitan dengan modul-modul
sebelumnya adalah merupakan satu kesatuan yaitu berpihak pada murid.
Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan menuntun
segala kodrat pada anak agar mencapai kebahagiaan dan keselamatan baik sebagai
manusia maupun anggota masyarakat. Penerapan budaya positif dan menggunakan
alur BAGJA akan menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman
(well being). Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran
penuh (mindfullness) serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang
dimiliki dalam sebuah keputusan yang diambil sebagai seorang pemimpin
pembelajaran. Keterampilan coaching sebagai pemimpin pembelajaran akan membantu
murid menemukan solusi untuk masalah mereka sendiri.
11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang
konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan
bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan
keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal
yang menurut Anda di luar dugaan?
Dalam menjalankan peran sebagai
pendidik, tentu seringkali kita menghadapi situasi dimana kita harus mengambil
keputusan dimana terdapat nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama
memiliki nilai kebenaran, namun saling bertentangan. Namun sesulit apapun
keputusan yang akan diambil, sebagai guru paling tidak selalu berpatokan dengan
3 unsur yang berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal,
dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Dilema etika adalah keputusan benar lawan benar sedangkan bujukan moral adalah
keputusan yang benar lawan salah. Empat Paradigma Dilema Etika antara lain : (1.) Individu lawan kelompok (individual vs
community). Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu lawan sebuah
kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya.
Paradigma ini, bisa juga berhubungan dengan konflik antara kepentingan pribadi
lawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil lawan kelompok besar. (2.) Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs
mercy) Dalam paradigma ini, pilihannya adalah antara mengikuti aturan tertulis
atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Kita bisa memilih untuk berlaku adil
dengan memperlakukan hal yang sama bagi semua orang, atau membuat pengecualian
dengan alasan kemurahan hati dan kasih sayang. (3.) Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) Kejujuran dan kesetiaan
seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika.
Kadang kita harus memilih antara jujur atau setia (atau bertanggung jawab)
kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan
fakta atau kita akan menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok
tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya, (4.) Jangka
pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) Paradigma ini paling
sering terjadi dan mudah diamati. Seringkali kita harus memilih keputusan yang
kelihatannya terbaik untuk saat ini atau yang terbaik untuk masa yang akan
datang. Paradigma ini bisa terjadi pada hal-hal yang setiap harinya terjadi
pada kita, atau pada lingkup yang lebih luas misalnya pada isu-isu dunia secara
global, misalnya lingkungan hidup dan lain - lain
Tiga Prinsip pengambilan keputusan yaitu : (1.) Berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang
tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang
mendalam, (2.) Berpikir berbasis hasil
akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir, (3.) Bepikir berbasis rasa peduli (Care-Based
Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda
meletakkan diri Anda pada posisi orang lain.
Sembilan Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan antara lain : (1.) Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan,
(2.) Menentukan siapa yang
terlibat dalam situasi ini, (3.) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, (4.) Pengujian benar atau salah yaitu a. Uji Legal
Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi itu, b. Uji Regulasi/Standar
Profesional Bila situasi yang dihadapi adalah dilema etika, dan tidak ada aspek
pelanggaran hukum di dalamnya, mari kita uji, apakah ada pelanggaran peraturan
atau kode etik di dalamnya. c. Uji Intuisi Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan
dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini, d.
Uji Publikasi Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan di
media cetak maupun elektronik dan menjadi viral di media sosial, e. Uji
Panutan/Idola Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan
oleh seseorang yang merupakan panutan Anda. (5.) Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang
terjadi di situasi yang sedang Anda hadapi ini ? a. Individu lawan kelompok
(individual vs community) b. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs
mercy) c. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) d. Jangka pendek lawan
jangka panjang (short term vs long term)Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, (6). Melakukan Prinsip Resolusi Dari 3 prinsip penyelesaian
dilema, mana yang akan dipakai ? a. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based
Thinking) b. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) c. Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) (7.) Investigasi
Opsi Trilema Dalam mengambil keputusan, seringkali ada 2 pilihan yang bisa kita
pilih. Terkadang kita perlu mencari opsi di luar dari 2 pilihan yang sudah ada.
Kita bisa bertanya pada diri kita, apakah ada cara untuk berkompromi dalam
situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak
terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah. (8) Buat Keputusan Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana
kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk
melakukannya. (9). Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan Ketika
keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil
pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnyaa Hal-hal yang
menurut saya di luar dugaan adalah ketika pengambilan keputusan harus
berlandaskan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan
keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga didapatkan
keputusan yang bertanggung jawab.
12. Sebelum mempelajari modul ini,
pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi
moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di
modul ini?
Sebelum mempelajari
modul ini, seringkali saya sebagai guru mengalami Dilema etika terhadap
berbagai situasi sulit di sekolah . Saya sudah mengambil keputusan yang kiranya
efektif dan baik bagi saya selaku orang yang mengalami Dilema dan baik bagi
orang lain yang terkait dengan situasi yang saya alami. Paradigma yang saya
alami adalah indiviu melawan kelompok, dan keadilan melawan rasa keadilan
melawan rasa kajian. Setelah mempelajari modul ini, saya menjadi tahu bahwa ada
9 langkah untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pengujian dan pengambil
keputusan yang harus saya pikirkan matang-matang untuk menemukan jawaban dari
situasinya.
13. Bagaimana dampak mempelajari
konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda
dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dampak mempelajari modul 3.1
pengambilan keputusan berbasis nilai kebajikan sebagai pemimpin, saya lebih
memahami paradigma dilema etika, prinsip dilema etika, 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan. Hal ini sangat berbeda sebelum saya mempelajari modul
ini, biasanya saya dalam mengambil keputusan berdasarkan sudut pandang diri
sendiri atau sepihak dan mengutamakan emosi. Setelah mempelajari modul ini
lebih memahami langkah – langkah pengambilan dan pengujian keputusan dan yang
terpenting adalah berlandaskan nilai kebajikan, dapat dipertanggung jawabkan
dan berpihak pada murid sehingga tidak merugikan salah satu pihak.
14. Seberapa penting mempelajari topik
modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Menurut saya sebagai seorang pemimpin sangatlah penting untuk
mempelajari modul 3.1 ini karena dalam pengambilan keputusan harus mengetahui 4
paradigma dilema etika, 3 Prinsip pengambilan keputusan serta 9 Langkah Pengambilan
dan Pengujian Keputusan agar dapat dipertanggung jawabkan sehingga mewujudkan
suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman, kondusif dan harmonis sehingga
dibutuhkan kolaborasi semua warga sekolah dan masyarakat sekitar. Sebagai
pemimpin kita akan dihadapkan dengan berbagai permasalahan, melalui modul 3.1
mendapat gambaran dalam pengambilan keputusan yang tepat.

Pemaparan yang disampaikan oleh Bu Santi sangat bagus dan terarah, sehingga bisa membuat saya terinspirasi..sukses selalu Bu Santi.
BalasHapusdalam filosofi Ki Hajar Dewantara materi lengkap dan bisa diaplikasikan dalam pengambilan keputusan sesuai nilai-nilai yang ada
BalasHapusPenguasaan tiap-tiap modul sudah sangat baik.
BalasHapusPerlu ditingkatkan hubungan antar modul dengan modul yang sedang dipelajari dengan menambahkan contoh kasus dilema etika, sehingga pembaca lebih memahami koneksi antar materi dengan modul yang aedang dipelajari
Bagus..sangat inspiratif
BalasHapusMateri yang di sampaikan bu santi sangat bagus sekali tentang bagaimana seorang pemimpin harus mengambil keputusan dengan tepat... Materi ini dapat menginspirasi buat saya. Sukses selalu bu santi.
BalasHapusRangkuman Materi tentang "Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin” mudah dipahami, jelas dan informasinya runtut, semangat buat penulisdan terus berkarya untuk menginspirasi, Setiap langkah kecil yang kamu ambil saat ini akan membawamu lebih dekat dengan tujuanmu. Jadi, jangan pernah berhenti bergerak maju.
BalasHapusSANGAT BAIK RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERINYA ... DITUNGGU KREASI LANJUTAN...
BalasHapusPemaparan yanh ditulis Bu santi midah dipahami jadi saya bisa mendapatkan ilmu baru tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan
BalasHapusMateri yang disampaikan Bu Santi sudah bagus, dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Selalu semangat dan terus berkarya Bu Santi... Semangattt...
BalasHapusPemaparan yang disampaikan Bu Santi sangat jelas dan mudah dipahami. Teruslah berkarya dan bergerak dengan berbagi praktik baik kepada semua orang yang membutuhkan. Semangat Bu Santi.
BalasHapus